Menuju Yang Berpuluh-puluh

Forty

gambar: aruncommunitychurch.com

Kata kawan dekat gue tadi pagi, welcome to the Top 40 Club.

Akhirnya sampai juga ke tingkap yang legendaris ini. Dulu kayaknya, sampai ke titik ini adalah pencapaian yang begitu monumental.

Secara kasat sih nggak ada yang ajaib. Bangun pagi tak ada cahaya yang dramatis di ujung jendela. Atau hymne yang gagah. Cuma sisa hujan yang menyisakan lembap yang kurang enak hawanya. Merayakannya bersama para peserta workshop dan para mentor di Bandung dengan kue cokelat yang disiapkan istri meski dia tidak ada di tempat.

Normal-normal saja.

Paling yang istimewa, istri sedang liburan sebentar ke Tokyo. Kerjanya luar biasa keras beberapa bulan terakhir. Dia amat berhak melepas penat ke sana. Kado gue pas umur 40 buat dia.

Lantas apa yang berubah? Life begin at 40? Kayaknya nggak. 40 begin at 40.

Hitungan ke depannya yang sedap. Langkah sudah makin harus signifikan. Jejak yang ditinggalkan bakal jadi apa? Bagaimana dengan kompromi hidup yang juga tak kunjung meluntur tingkat nyatanya?

Juga kelipatan ‘sepuluh’ yang mendadak jadi ‘dekat’ dan ‘sebentar’. Percepatan yang rasanya meningkat. Memacu semuanya.

Itulah. Empat puluh memulai hidup yang empat puluh. Semua harus kian serius. Selucu apa pun nanti hidup, mesti tetap serius. Menjahit konsekuensi dan berpikir panjang dalam rentang waktu yang kian berderap. Sekaligus memastikan duka-duka pelangi sudah sembuh dan tidak akan merengek lagi.

Semoga ahlak sehat dan akal mulia bisa gue luruhkan dengan berguna. Dalam berpuluh-puluh langkah ke depan.

Iklan

Menotakan Yang Berpengaruh

20141219182513-want-gain-influence-social-media-work

sumber: entrepreneur.com

 

Sudah hampir tiga bulan nggak nulis di sini. Deadline dan negosiasi kerja lagi nggak bisa ditawar-tawar. Sementara jatah umur di lajur 30, sebentar lagi habis.

Di tengah menulis sebuah draft skenario soal laki-laki yang enggan diandalkan sedang belajar tanggung jawab, gue seperti lagi memajang cermin di depan hidung. Ini napak tilas atau masih valid situasinya?

Ah, buat menjawabnya selesaikan dulu saja draftnya. Yang jelas, sekarang jadi pingin napak tilas influence. Gara-gara sepanjang nulis ditemani album-album yang memanaskan gairah darah muda dulu.

Karena detik ini sedang mendengarkan Kampungan, gue jadi terlempar ke tahun-tahun itu. Awal 90-an. Persis saat gue masuk SMA. Apa musik yang gue dengar pada tahun itu, ya?

Yang jelas tahun itu adalah masa ‘keemasan’ pertumbuhan selera musik gue. Tahun-tahun itu tanda gue mulai memperhatikan musik Indonesia. Gerbangnya? Kampungan. Sebelum album itu, musik keren itu datang dari tanah barat. Dari tanah air, paling gue mengakui Iwan Fals [ini wajib, karena gue besar di gang] dan KLa Project [karena sedang menggilai puisi].

Kenapa Kampungan. Karena waktu Suit Suit Hehe, buat gue Slank masih kurang asyik. Single ‘Maafkan’ buat gue semacam rip-off dari ‘Never Say Goodbye’-nya Bon Jovi. Jadilah album itu tidak gue beli.

Setahun berikutnya, tepatnya 1991, gue ditampar ‘Kampungan’, ‘Nina Bobo’, ‘Nggak Rock n Roll’, ‘Terlalu Manis’, ‘A+-=+-‘~>’, ‘Teng-Teng Blues’ dan lainnya. Mendadak kegelisahan gue yang sedang berontak penuh gugatan, selalu ingin protes kalau ada yang kurang beres, menemukan corongnya.

Dengan sangat singkat, tiap pulang sekolah gue mampir ke Potlot. Nama lima anggota formasi 13 itu tercoret di ransel parasut buluk gue. Tanpa banyak cingcong, gue jadi Slanker. Mendengarkan celoteh Mas Bimbim di pendopo Potlot waktu itu, melebihi guru Tata Negara yang malas mengajar dan cuma meminta gue menghapal teks.

Di tahun yang sama gue mengenal Pearl Jam lewat Ten. Setelah sebelumnya membeli Nevermind terlebih dahulu, gue tukar guling dengan kawan yang punya Ten. Dia jadi pemuja Cobain, gue tenggelam dalam sihir lirik Vedder. Terutama “I don’t question our existence, I just question our modern need”. Rangkaian lirik tercerdas sepanjang masa buat gue. Membuat gue tiap hari ke sekolah dengan lengan flanel tergulung setengah.

Sejak saat itu, gue haus dan lapar musik dengan lirik yang mengaduk-aduk isi kepala dan hati. Provokasi wacana, gue bilangnya. Mental protes gue juga perlahan makin tajam dan dapat bensin. Di titik ini, REM dan U2 jadi gue pelajari dengan amat serius. Michael Stipe pun jadi ‘kiblat’ baru gue. Dengan Bono sebagai ‘sunnah’-nya.

Entah kenapa gue selalu begitu. Idolanya idola selalu gue cari. Orang itu pengaruhnya siapa, gue ulik. Jadilah gue menjelajah ke Patty Smith, Velvet Underground, dll. Dulu juga mampir ke Queen gara-gara Axl Rose bilang album Queen II  mempengaruhi hidupnya.

Tahun berikutnya, Iwan Fals meritis salah satu album paling fenomenal buat gue: Belum Ada Judul. Setelah sejak 1989 tidak bisa move on dari kaset Swami I yang statusnya rusak-beli. Di titik ini gue belajar apa yang namanya ‘matang’.  Menjadi sophisticated dengan sederhana. Tampil rumit dengan amat simpelnya. Bang Iwan mengoyak-ngoyak gue cukup dengan harmonika dan gitar akustiknya. Tentu ini sudah jadi ciri khasnya. Tapi di Belum Ada Judul seperti ada lingkaran sempurna yang berhasil dicapai Iwan Fals.

Lantas galau jamaah dengan ‘Creep’ bersama angkatan 90-an lainnya. Ingat betul, pertama dengar single abadi Radiohead di dalam mobil pacar saat itu. Berantem, karena gue maksa menahan tuning radio di lagu tadi.

Buntutnya, sejak era itu, gue mulai nekad bikin-bikin lagu sendiri. Meracik lirik. Curhat dengan norak atau sok protes dengan amat belagunya. Cerita-cerita gue, cerpen yang coba gue buat, puisi yang gue goret pun kian ‘keras’ aktualiasi dirinya.

Pernah sampai membuat gue menulis cerpen yang membuat majalah sekolah nyaris dilarang terbit karena berisi anak ditusuk obeng di dalam kelas dan ada guru mengoleksi duit LKS. Gue sampai menulis puisi protes nan panjang ‘Surat Terbuka Buat Kepala Sekolah’ di mading. Seingat gue, akhirnya majalah dan cerpen gue lolos terbit. Ah, masa-masa bau kencur itu. Lucu.

Musik amat berpengaruh buat gue. Tapi masa itu memang luar biasa. Pernah turun dari mobil kawan karena pingin memutar album Slank dan dikatai kampungan. “Emang gue kampungan,” tukas gue sambil banting pintu. Sok heroik betul. Konyol.

Lewat musik-musik itu gue menjadi. Jadi kepala batu soal eksistensi. Emoh mengubah lagu sesuai keinginan label yang sudah kasih indikasi melirik demo band gue pada saat itu. Menolak kompromi jadwal dengan pacar berikutnya yang protes merasa ‘diduakan’ dengan urusan musik. Termasuk menantang dekanat yang tak jelas mengutip duit praktikum setelah berminggu-minggu khusyuk menyimak Generasi Biru.

Sepertinya, memang gue tumbuh di kosmik yang memang sedang ke arah sana. Pecah di 1998. Terlepas betapa gamangnya ‘angkatan’ itu. Ini diskusi yang lain lagi.

Ah, sudah dulu. Mau menuntaskan tenggat. Ditemani Minoritas.

 

 

Mencatat Yang Akhir

Untitled design

Sebentar lagi, 2015 tamat.

Tahun jungkir-balik buat gue. Lebih atraktif dari sebelum-sebelumnya.

Ada banyak yang membuat jatuh sampai tengkurap. Harus bergulat dengan kehilangan yang masih terus perih. Ditantang soal integritas versus realitas tagihan dokter, uang sekolah dan lainnya.

Berhadap-hadapan dengan institusi kaya-raya dengan modal keyakinan terhadap kontrak kerja, integritas dan akal sehat. Menyisakan hutang yang tidak sedikit. Tapi gue tidak kalah. Dibantu oleh banyak sekali teman-teman dekat, rekan serta pihak lainnya. Terima kasih semuanya. Atas nama industri yang lebih punya guna, gue berusaha untuk tetap waras.

Proyek-proyek kerja yang mesti batal karena berbenturan secara visi dan pemahaman dasar dari kerja itu sendiri. Atau yang harus berkutat terlalu dalam di masalah elementer. Cukup melelahkan. Semoga ini bikin tambah dewasa. Kembali, gue cuma ingin industri tempat berkubang daya-cipta-karsa ini, jadi lebih elegan. Perkasa. Sama-sama bisa menemukan standard yang tepat.

Krisis percaya diri dunia ekonomi yang membuat pemasukan kantor jadi tersunat, [meski paradoks-nya jumlah proyeknya lebih banyak] bikin jantung terpompa lebih intens. Meski kami berhasil sampai pada titik sedikit di atas aman.

Kisah yang sudah dipupuk selama 8 tahun, dikerjakan dengan cukup solid dan gue tersenyum dengan hasilnya, melempem. Sampai detik ini belum jelas apa hasil kaji yang tepat, kenapa bisa begitu.

Di beberapa titik, lumayan menjorokkan masuk sudut frustrasi. Gagal paham sekaligus digoda untuk menyerahkan leher integritas ke ujung tajamnya pisau realitas.

Ada beberapa momen yang membuat lutut berdiri sedikit lebih gagah.

SiLENTiUM merilis EP ‘Bedeng’. Lalu membuat video recording live. Terus bergerilya secara online, dan pelan-pelan bisa meraup views yang cutup lumayan. Sekitar 200 ribu views lebih untuk 7 videonya. Lantas, sekarang punya distributor digital resmi. Sesuatu yang dulu cuma jadi renda dari obrolan band minor pop ini, sembari mengudap oncom, leunca dan pahitnya kopi.

Ini beberapa warungnya:

iTunes: https://itunes.apple.com/id/album/bedeng/id1059701453
rhapsody: http://www.rhapsody.com/artist/silentium/album/bedeng
amazon: http://www.amazon.com/s/ref=nb_sb_noss?url=search-alias%3Ddigital-music&field-keywords=silentium+bedeng

Merilis dua film pertama dengan mengibarkan nama Argi Film. Satunya Ayat-Ayat Adinda. Berikutnya Mencari Hilal. Yang terakhir bisa keliling ke Tokyo Film Festival masuk kompetisi. Juga beberapa Festival luar lainnya. Di tanah air, mendapat tujuh nominasi Citra dan Piala Maya. Menyabet piala untuk aktor utama Dedi Soetomo. Oom Dedi hattrick tahun ini dengan menambah piala dari Festival Film Bandung.

Dan, tahun itu kini mau permisi lewat. Tanpa jungkir-balik atau drama apa pun, kalender tinggal digeser saja, sudah jadi 2016. Tak peduli gue yang masih agak lebam dan rasanya ingin rehat sebentar. Tahu-tahu, besok, sudah tahun baru.

Tentu ada beberapa potensi. Ranah-ranah cerita baru. Tapi semuanya mengincar dengan resiko yang tak berkurang tingkat girisnya.

Berkemas sajalah. Cari strategi eksistensi baru hasil belajar dari yang lalu. Kalau sempat. Kalau tidak, bikin saja dulu. Kumpulkan daya, data dan kejar dananya.

Satu saja, jangan pernah lupa bangun kalau jatuh. Itu mungkin, resolusi gue tahun ini.

 

 

 

Mencintai Yang Iman

2

Inilah video live recording terakhir kami dari Konser Diam-Diam ‘Bedeng’ di Air Studio. Lagu ‘Di Atas Cahaya’. Ini link youtube: https://www.youtube.com/watch?v=2AH17JH6vn8

“Surga bukan untuk yang suci, tanpa noda…”

Langgam ini jadi OST film Ayat-Ayat Adinda yang coba menyerukan bahwa iman harusnya memanusiakan manusia. Pernah juga bertengger sampai no 9 di tangga lagu GANAS Gen FM.

Mari, bercinta di Bedeng kami yang coba diisi dengan cahaya iman.

 

nb:

Beli ‘Bedeng’ cara digital: https://itunes.apple.com/id/album/bedeng/id1059701453

http://www.rhapsody.com/artist/silentium/album/bedeng

http://www.amazon.com/s/ref=nb_sb_noss_2…

Dan di daftar ini:

Stores

Yang klasikal masih di sini:

posterpromo

 

Mensikluskan Yang Hidup

default

Berikutnya lagi, kawan-kawan! Masih dari rekaman live di Air Studio. Masih dari Konser Diam-Diam-nya SiLENTiUM album Bedeng. Menyambut antusiasme kawan-kawan lewat view di FB yang kian gembung untuk lagu-lagu sebelumnya, inilah ‘Siklus’: https://www.youtube.com/watch?v=vszBe3dVqKI

Seperti siklus. Hidup berputar. Hilang dan berganti. Rindu yang tak sempat jadi, mimpi yang tak tuntas atau pelangi yang datang dan pergi. Selalu begitu. Semoga kita bisa tetap berdiri. Tumbuh lebih baik dalam gasing perubahan. Semoga lagu ini, bisa menjadi anthem yang menemani.

Mari bersiklus bersama di Bedeng kami.

nb: terpikat memesan CD, lihat selebaran ini:

posterpromo