Merayakan Yang Citra

Seorang bocah SD penggila film, yang sejak bisa menonton TV tahun 1980-an, selalu berusaha mengikuti perkembangan film Indonesia. Dia selalu menonton acara bertirai merah dengan lagu nan khas itu. Nama acaranya Apresiasi Film Indonesia. Berikutnya tentu dia selalu menunggu perhelatan Piala Citra.

Mengagumi nama-nama pemenang seperti Asrul Sani, Arifin C. Noer, Teguh Karya, Wim Umboh, George Kamarullah, Benny Benhardi, Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Alex Komang, dan lainnya. Sambil diam-diam mengkhayalkan pidato kemenangannya sendiri satu hari nanti.

Sekian belas tahun kemudian, bocah itu tercebur masuk industri film Indonesia.

Setelah berkarir sejak 2004, melewati sembilan nominasi sebagai penulis skenario terbaik dan turun naiknya penyelenggaraan Festival Film Indonesia, bocah itu menerima Citra pertamanya lewat Skenario Adaptasi Terbaik di film Athirah bersama Riri Riza.

Bocah itu, gue.

Semua terasa cukup sureal ternyata. Butuh beberapa waktu buat mencernanya.

Alhamdulillah berkali-kali. Buat pasangan menulis kesayangan. Buat Papa-Mama. Buat semua keluarga. Dan juga buat Wahana Penulis yang terus mengawal gue selama ini.

Dan kebanggaan malam itu bukan cuma buat gue. Tapi juga buat Athirah yang menyabet Film Terbaik. Sekaligus juga, Tata Busana, Tata Artistik, Pemeran Wanita Utama, serta Sutradara.

Kerja sama dengan Mira Lesmana memang selalu lebih dari sekedar membuat film. Athirah, dengan segala keapikan kerja pemain dan krunya, akan selalu spesial di hati gue.

Makin menyenangkan ketika Riri Riza, salah satu inspirator gue sebagai sutradara, untuk pertama kali juga memegang piala sebagai Sutradara Terbaik. Termasuk Eros Eflin sebagai Penata Artistik.

Berikutnya juga Faozan Rizal. Orang yang membuka mata gue soal sinematografi yang melayani cerita, juga memeluk Citra untuk pertama kali lewat film Salawaku.

Di samping itu, penyelenggaran kali ini, sebagai sebuah pertunjukkan, adalah yang terbaik setelah FFI bergulir lagi di pertengahan 2000-an. Semua berjalan hangat, elegan dan berhasil terasa sebagai ajangnya para pekerja film Indonesia. Membuat rasa bahagia pegang piala makin berlipat.

Tabik buat semua panitia yang gue tahu persis jungkir-baliknya seperti apa. Tentu dengan beberapa catatan yang bersifat untuk kemajuan berikutnya.

Sekali lagi, alhamdulillah.

Bangga, dan maju terus film Indonesia!

 

Iklan

2 pemikiran pada “Merayakan Yang Citra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s