Menotakan Yang Berpengaruh

20141219182513-want-gain-influence-social-media-work

sumber: entrepreneur.com

 

Sudah hampir tiga bulan nggak nulis di sini. Deadline dan negosiasi kerja lagi nggak bisa ditawar-tawar. Sementara jatah umur di lajur 30, sebentar lagi habis.

Di tengah menulis sebuah draft skenario soal laki-laki yang enggan diandalkan sedang belajar tanggung jawab, gue seperti lagi memajang cermin di depan hidung. Ini napak tilas atau masih valid situasinya?

Ah, buat menjawabnya selesaikan dulu saja draftnya. Yang jelas, sekarang jadi pingin napak tilas influence. Gara-gara sepanjang nulis ditemani album-album yang memanaskan gairah darah muda dulu.

Karena detik ini sedang mendengarkan Kampungan, gue jadi terlempar ke tahun-tahun itu. Awal 90-an. Persis saat gue masuk SMA. Apa musik yang gue dengar pada tahun itu, ya?

Yang jelas tahun itu adalah masa ‘keemasan’ pertumbuhan selera musik gue. Tahun-tahun itu tanda gue mulai memperhatikan musik Indonesia. Gerbangnya? Kampungan. Sebelum album itu, musik keren itu datang dari tanah barat. Dari tanah air, paling gue mengakui Iwan Fals [ini wajib, karena gue besar di gang] dan KLa Project [karena sedang menggilai puisi].

Kenapa Kampungan. Karena waktu Suit Suit Hehe, buat gue Slank masih kurang asyik. Single ‘Maafkan’ buat gue semacam rip-off dari ‘Never Say Goodbye’-nya Bon Jovi. Jadilah album itu tidak gue beli.

Setahun berikutnya, tepatnya 1991, gue ditampar ‘Kampungan’, ‘Nina Bobo’, ‘Nggak Rock n Roll’, ‘Terlalu Manis’, ‘A+-=+-‘~>’, ‘Teng-Teng Blues’ dan lainnya. Mendadak kegelisahan gue yang sedang berontak penuh gugatan, selalu ingin protes kalau ada yang kurang beres, menemukan corongnya.

Dengan sangat singkat, tiap pulang sekolah gue mampir ke Potlot. Nama lima anggota formasi 13 itu tercoret di ransel parasut buluk gue. Tanpa banyak cingcong, gue jadi Slanker. Mendengarkan celoteh Mas Bimbim di pendopo Potlot waktu itu, melebihi guru Tata Negara yang malas mengajar dan cuma meminta gue menghapal teks.

Di tahun yang sama gue mengenal Pearl Jam lewat Ten. Setelah sebelumnya membeli Nevermind terlebih dahulu, gue tukar guling dengan kawan yang punya Ten. Dia jadi pemuja Cobain, gue tenggelam dalam sihir lirik Vedder. Terutama “I don’t question our existence, I just question our modern need”. Rangkaian lirik tercerdas sepanjang masa buat gue. Membuat gue tiap hari ke sekolah dengan lengan flanel tergulung setengah.

Sejak saat itu, gue haus dan lapar musik dengan lirik yang mengaduk-aduk isi kepala dan hati. Provokasi wacana, gue bilangnya. Mental protes gue juga perlahan makin tajam dan dapat bensin. Di titik ini, REM dan U2 jadi gue pelajari dengan amat serius. Michael Stipe pun jadi ‘kiblat’ baru gue. Dengan Bono sebagai ‘sunnah’-nya.

Entah kenapa gue selalu begitu. Idolanya idola selalu gue cari. Orang itu pengaruhnya siapa, gue ulik. Jadilah gue menjelajah ke Patty Smith, Velvet Underground, dll. Dulu juga mampir ke Queen gara-gara Axl Rose bilang album Queen II  mempengaruhi hidupnya.

Tahun berikutnya, Iwan Fals meritis salah satu album paling fenomenal buat gue: Belum Ada Judul. Setelah sejak 1989 tidak bisa move on dari kaset Swami I yang statusnya rusak-beli. Di titik ini gue belajar apa yang namanya ‘matang’.  Menjadi sophisticated dengan sederhana. Tampil rumit dengan amat simpelnya. Bang Iwan mengoyak-ngoyak gue cukup dengan harmonika dan gitar akustiknya. Tentu ini sudah jadi ciri khasnya. Tapi di Belum Ada Judul seperti ada lingkaran sempurna yang berhasil dicapai Iwan Fals.

Lantas galau jamaah dengan ‘Creep’ bersama angkatan 90-an lainnya. Ingat betul, pertama dengar single abadi Radiohead di dalam mobil pacar saat itu. Berantem, karena gue maksa menahan tuning radio di lagu tadi.

Buntutnya, sejak era itu, gue mulai nekad bikin-bikin lagu sendiri. Meracik lirik. Curhat dengan norak atau sok protes dengan amat belagunya. Cerita-cerita gue, cerpen yang coba gue buat, puisi yang gue goret pun kian ‘keras’ aktualiasi dirinya.

Pernah sampai membuat gue menulis cerpen yang membuat majalah sekolah nyaris dilarang terbit karena berisi anak ditusuk obeng di dalam kelas dan ada guru mengoleksi duit LKS. Gue sampai menulis puisi protes nan panjang ‘Surat Terbuka Buat Kepala Sekolah’ di mading. Seingat gue, akhirnya majalah dan cerpen gue lolos terbit. Ah, masa-masa bau kencur itu. Lucu.

Musik amat berpengaruh buat gue. Tapi masa itu memang luar biasa. Pernah turun dari mobil kawan karena pingin memutar album Slank dan dikatai kampungan. “Emang gue kampungan,” tukas gue sambil banting pintu. Sok heroik betul. Konyol.

Lewat musik-musik itu gue menjadi. Jadi kepala batu soal eksistensi. Emoh mengubah lagu sesuai keinginan label yang sudah kasih indikasi melirik demo band gue pada saat itu. Menolak kompromi jadwal dengan pacar berikutnya yang protes merasa ‘diduakan’ dengan urusan musik. Termasuk menantang dekanat yang tak jelas mengutip duit praktikum setelah berminggu-minggu khusyuk menyimak Generasi Biru.

Sepertinya, memang gue tumbuh di kosmik yang memang sedang ke arah sana. Pecah di 1998. Terlepas betapa gamangnya ‘angkatan’ itu. Ini diskusi yang lain lagi.

Ah, sudah dulu. Mau menuntaskan tenggat. Ditemani Minoritas.

 

 

Iklan