Mencatat Yang Akhir

Untitled design

Sebentar lagi, 2015 tamat.

Tahun jungkir-balik buat gue. Lebih atraktif dari sebelum-sebelumnya.

Ada banyak yang membuat jatuh sampai tengkurap. Harus bergulat dengan kehilangan yang masih terus perih. Ditantang soal integritas versus realitas tagihan dokter, uang sekolah dan lainnya.

Berhadap-hadapan dengan institusi kaya-raya dengan modal keyakinan terhadap kontrak kerja, integritas dan akal sehat. Menyisakan hutang yang tidak sedikit. Tapi gue tidak kalah. Dibantu oleh banyak sekali teman-teman dekat, rekan serta pihak lainnya. Terima kasih semuanya. Atas nama industri yang lebih punya guna, gue berusaha untuk tetap waras.

Proyek-proyek kerja yang mesti batal karena berbenturan secara visi dan pemahaman dasar dari kerja itu sendiri. Atau yang harus berkutat terlalu dalam di masalah elementer. Cukup melelahkan. Semoga ini bikin tambah dewasa. Kembali, gue cuma ingin industri tempat berkubang daya-cipta-karsa ini, jadi lebih elegan. Perkasa. Sama-sama bisa menemukan standard yang tepat.

Krisis percaya diri dunia ekonomi yang membuat pemasukan kantor jadi tersunat, [meski paradoks-nya jumlah proyeknya lebih banyak] bikin jantung terpompa lebih intens. Meski kami berhasil sampai pada titik sedikit di atas aman.

Kisah yang sudah dipupuk selama 8 tahun, dikerjakan dengan cukup solid dan gue tersenyum dengan hasilnya, melempem. Sampai detik ini belum jelas apa hasil kaji yang tepat, kenapa bisa begitu.

Di beberapa titik, lumayan menjorokkan masuk sudut frustrasi. Gagal paham sekaligus digoda untuk menyerahkan leher integritas ke ujung tajamnya pisau realitas.

Ada beberapa momen yang membuat lutut berdiri sedikit lebih gagah.

SiLENTiUM merilis EP ‘Bedeng’. Lalu membuat video recording live. Terus bergerilya secara online, dan pelan-pelan bisa meraup views yang cutup lumayan. Sekitar 200 ribu views lebih untuk 7 videonya. Lantas, sekarang punya distributor digital resmi. Sesuatu yang dulu cuma jadi renda dari obrolan band minor pop ini, sembari mengudap oncom, leunca dan pahitnya kopi.

Ini beberapa warungnya:

iTunes: https://itunes.apple.com/id/album/bedeng/id1059701453
rhapsody: http://www.rhapsody.com/artist/silentium/album/bedeng
amazon: http://www.amazon.com/s/ref=nb_sb_noss?url=search-alias%3Ddigital-music&field-keywords=silentium+bedeng

Merilis dua film pertama dengan mengibarkan nama Argi Film. Satunya Ayat-Ayat Adinda. Berikutnya Mencari Hilal. Yang terakhir bisa keliling ke Tokyo Film Festival masuk kompetisi. Juga beberapa Festival luar lainnya. Di tanah air, mendapat tujuh nominasi Citra dan Piala Maya. Menyabet piala untuk aktor utama Dedi Soetomo. Oom Dedi hattrick tahun ini dengan menambah piala dari Festival Film Bandung.

Dan, tahun itu kini mau permisi lewat. Tanpa jungkir-balik atau drama apa pun, kalender tinggal digeser saja, sudah jadi 2016. Tak peduli gue yang masih agak lebam dan rasanya ingin rehat sebentar. Tahu-tahu, besok, sudah tahun baru.

Tentu ada beberapa potensi. Ranah-ranah cerita baru. Tapi semuanya mengincar dengan resiko yang tak berkurang tingkat girisnya.

Berkemas sajalah. Cari strategi eksistensi baru hasil belajar dari yang lalu. Kalau sempat. Kalau tidak, bikin saja dulu. Kumpulkan daya, data dan kejar dananya.

Satu saja, jangan pernah lupa bangun kalau jatuh. Itu mungkin, resolusi gue tahun ini.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s