Menghargai Yang Merdeka

sumber: news.liputan6.com

sumber: news.liputan6.com

Tadi pagi, di sekolah Biru, gue ikut upacara lagi. Awalnya, ada rasa segan tentu. Seremonial yang biasanya entah kenapa terasa banal. Tapi, tadi pagi tidak. Masih diisi dengan tata upacara yang sama, yang agak berbeda adalah pesan yang dipilih untuk disampaikan Kepala Sekolah.

Simpel saja, semangat perubahan. Pertama, menghargai perbedaan. Sederhana tapi itu hal yang belakangan sering gue gelisahkan. Kemerdekaan untuk berbeda. Lalu, bersama-sama menghargainya. Kedua, soal menjadi bagian dari perubahan.

Salah satunya soal mengajak orang lain dengan modal bersabar. Perubahan tidak akan terjadi kalau tidak ada orang-orang yang begitu. Dan, itulah pahlawan. Mendadak gue mengerti, kenapa kita harus menghargai mereka. Karena orang-orang itu selalu tidak akan lebih banyak, daripada orang-orang yang memilih untuk ada di zona nyaman dan cari aman sendiri.

Pastilah itu yang terjadi pada awal tahun perjuangan dulu. Begitu banyak resiko yang harus diambil untuk mau bermuka-muka dengan hal-hal bengkok yang mengganjal. Apalagi pada saat itu, yang jadi resiko, darah habis dan nyawa tumpas. Baik pakai senapan atau pun diplomasi di meja perundingan.

Jelas lebih enak dan tidak rumit bila mencoba menerima saja segala hal yang terjadi meski itu melanggar hakikat hidup, seperti keadilan dan lainnya. Sekarang? Masih sama.

Contohnya, sebelum upacara dimulai, ada tiga orang Bapak dekat gue yang bicara soal bully. Salah satunya dengan berapi-api bilang, harusnya bully diterima dengan santai saja. Itu biasa, katanya. Di jalan, di dunia kerja oleh klien dan customer, kita di-bully, tambahnya lagi. Pihak sekolah saja yang membesar-besarkan. Mestinya tak usah begitu-begitu amat. Anak-anak jadi cengeng. Begitu kesimpulannya.

Terlepas dia bebas saja berpendapat dan punya argumen yang belum gue uji, tapi ada bau bibit pembiaran dan pemakluman. Gue pernah memelintir sedikit kutipan Kundera yang terkenal, soal melawan kekuasaan itu pergulatan ingat melawan lupa, jadi melawan maklum.

Di sini, kita sudah terlalu sering dipaksa maklum terhadap ketidakpatutan. Sistemik mau pun tidak. Padahal, tidak ada kata mendingan dalam hal kejahatan, begitu kata pelawak Akri.

Jadi, tabik sepenuh hati buat orang-orang yang sudah berkorban dan masih terus mau memperjuangkan hidup yang lebih berdaya guna untuk orang banyak lainnya. Gue menunduk dalam lagu Mengheningkan Cipta lebih dalam dari biasanya.

Setelah itu, pesan Kepala Sekolah mengajak semua yang hadir mengingatkan anak-anak untuk tidak semena-mena di jalan, di rumah atau dimana pun dia berada. Ada hak merdeka orang lain di sana. Ada ketertiban yang harus selalu dijaga bersama.

Dan, pesan itu ditutup dengan satu kata, yang buat gue, tepat sekali menggambarkan semua anak-anak yang hadir di situ. Bahwa mereka, adalah generasi pelurus, yang harus terus merdeka.

Pernyataan bersahaja sekaligus berani. Menindas habis kesombongan kaum tua yang kerap merasa benar dan ingin selalu dihormati. Harus mau mengakui banyak kekurangan dan kesalahan yang kita buat [lihat ini buat misal], hingga mesti siap dikoreksi demi dan oleh kaum muda.

Saya pun mengangkat tangan. Bukan cuma menghormat. Tapi memberi penghargaan, atas makna merdeka yang segar itu.

Dirgahayu Nusantara.

Iklan

2 pemikiran pada “Menghargai Yang Merdeka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s