Mengenergikan Yang Besok

Panggung3 Panggung2 Panggung

Beberapa jam lagi, Konser Diam-Diam SiLENTiUM [alias rekaman live dan syuting video EP Bedeng], bakal digelar. Ini persiapan hari ini di Air Cawan. Jl. Taman Pendidikan no 4a, Terogong, Fatmawati.

Kami, dari pagi bakal sudah bersiap. Cek sana-sini. Latihan terakhir buat mengikis gugup. Mungkin proses rekaman audio dan visualnya, sesudah makan siang. Saat matahari sedang asyik.

Sekali lagi, buat yang mau mampir ke hajatan sederhana kami, silakan.

Iklan

Menyiapkan Yang Diam

20150819055019

Mendekat ke terminal “Konser Diam-Diam”-nya SiLENTiUM [sebenarnya ini rekaman live buat materi video buat EP ke-2 kam, Bedeng]. Tanggal 23 Agustus. Ada yang berminat mampir? Tempatnya di ruas Jalan Terogong di Fatmawati. Dekat sekali dengan restoran Radja Ketjil. Sekitar 100 meter kurang dari restoran, ada spa namanya Air Cawan. Tepatnya Jl. Taman Pendidikan no 4a.

Hanya saja, suasananya bakal amat bersahaja. Tak ada jamu-jamuan yang berarti kecuali keriangan tawa dan nota-nota nada kami yang bisa menghangatkan. Kami akan berasyik-seru di sana. Bersama kawan-kawan yang lain seperti Upie Guava dan lainnya. Mari.

Menghargai Yang Merdeka

sumber: news.liputan6.com

sumber: news.liputan6.com

Tadi pagi, di sekolah Biru, gue ikut upacara lagi. Awalnya, ada rasa segan tentu. Seremonial yang biasanya entah kenapa terasa banal. Tapi, tadi pagi tidak. Masih diisi dengan tata upacara yang sama, yang agak berbeda adalah pesan yang dipilih untuk disampaikan Kepala Sekolah.

Simpel saja, semangat perubahan. Pertama, menghargai perbedaan. Sederhana tapi itu hal yang belakangan sering gue gelisahkan. Kemerdekaan untuk berbeda. Lalu, bersama-sama menghargainya. Kedua, soal menjadi bagian dari perubahan.

Salah satunya soal mengajak orang lain dengan modal bersabar. Perubahan tidak akan terjadi kalau tidak ada orang-orang yang begitu. Dan, itulah pahlawan. Mendadak gue mengerti, kenapa kita harus menghargai mereka. Karena orang-orang itu selalu tidak akan lebih banyak, daripada orang-orang yang memilih untuk ada di zona nyaman dan cari aman sendiri.

Pastilah itu yang terjadi pada awal tahun perjuangan dulu. Begitu banyak resiko yang harus diambil untuk mau bermuka-muka dengan hal-hal bengkok yang mengganjal. Apalagi pada saat itu, yang jadi resiko, darah habis dan nyawa tumpas. Baik pakai senapan atau pun diplomasi di meja perundingan.

Jelas lebih enak dan tidak rumit bila mencoba menerima saja segala hal yang terjadi meski itu melanggar hakikat hidup, seperti keadilan dan lainnya. Sekarang? Masih sama.

Contohnya, sebelum upacara dimulai, ada tiga orang Bapak dekat gue yang bicara soal bully. Salah satunya dengan berapi-api bilang, harusnya bully diterima dengan santai saja. Itu biasa, katanya. Di jalan, di dunia kerja oleh klien dan customer, kita di-bully, tambahnya lagi. Pihak sekolah saja yang membesar-besarkan. Mestinya tak usah begitu-begitu amat. Anak-anak jadi cengeng. Begitu kesimpulannya.

Terlepas dia bebas saja berpendapat dan punya argumen yang belum gue uji, tapi ada bau bibit pembiaran dan pemakluman. Gue pernah memelintir sedikit kutipan Kundera yang terkenal, soal melawan kekuasaan itu pergulatan ingat melawan lupa, jadi melawan maklum.

Di sini, kita sudah terlalu sering dipaksa maklum terhadap ketidakpatutan. Sistemik mau pun tidak. Padahal, tidak ada kata mendingan dalam hal kejahatan, begitu kata pelawak Akri.

Jadi, tabik sepenuh hati buat orang-orang yang sudah berkorban dan masih terus mau memperjuangkan hidup yang lebih berdaya guna untuk orang banyak lainnya. Gue menunduk dalam lagu Mengheningkan Cipta lebih dalam dari biasanya.

Setelah itu, pesan Kepala Sekolah mengajak semua yang hadir mengingatkan anak-anak untuk tidak semena-mena di jalan, di rumah atau dimana pun dia berada. Ada hak merdeka orang lain di sana. Ada ketertiban yang harus selalu dijaga bersama.

Dan, pesan itu ditutup dengan satu kata, yang buat gue, tepat sekali menggambarkan semua anak-anak yang hadir di situ. Bahwa mereka, adalah generasi pelurus, yang harus terus merdeka.

Pernyataan bersahaja sekaligus berani. Menindas habis kesombongan kaum tua yang kerap merasa benar dan ingin selalu dihormati. Harus mau mengakui banyak kekurangan dan kesalahan yang kita buat [lihat ini buat misal], hingga mesti siap dikoreksi demi dan oleh kaum muda.

Saya pun mengangkat tangan. Bukan cuma menghormat. Tapi memberi penghargaan, atas makna merdeka yang segar itu.

Dirgahayu Nusantara.

Diam Yang Melangkah

11813520_101542Latihan

Berawal dari muncul di halaman 32 Kompas 6 Agustus [ ini versi digitalnya], langkah menelisik SiLENTiUM makin menajam. Menuju Konser Diam-Diam.

Hari ini, sembari menghela energi yang masih tersisa, kami melikatkan latihan. Biar nanti makin asyik waktu rekaman langsung.

Undangan untuk melihat kami bermain dan ikut santai bersenang-senang, terus terbuka. Pantau terus di sini.

Mengonserkan Yang Diam

KDD

Perlahan, makin kelihatan ini kerja. Dan dibantu kawan lama yang begitu baik hati. Salah satunya Deddy Raksawardana. Mantan gitaris Naff. Sound engineer handal yang pernah gue kenal. Dan sekarang terjun pindah dunia ke film. Tapi yang paling penting, dialah produser pertama SiLENTiUM. Orang yang percaya pada cinta keras kepala dan nota nada-nada kami.

Sekarang dia bakal menjadi orang yang akan merekam audio visual “konser diam-diam” kami. Kenapa diam-diam? Karena nantinya, akan disebarkan sebagai bentuk yang bisa dilihat berulang dalam kamar, laptop, tablet atau telepon pintar kawan-kawan semua. Karena ‘konser’ ini baru akan ‘bunyi’ ketika kalian bisa menemukan jeda yang tepat untuk menikmatinya. Karena, secara teknis ini sebenarnya adalah produksi live recoding.

Sementara, tanggal yang kami lingkari dengan janji untuk diam-diam konser, 23 Agustus. Nanti, kalau ada pergeseran dan kebetulan ada yang mau datang, akan gue beri tahu di sini.

Oh, ya. Juga baru saja dapat kabar gembira dari kawan di 98,7 GenFM. Kalau lagu ‘Di Atas Cahaya’ merangkak naik lagi ke nomer 9 di tangga lagu GANAS. Yeah.

Dan ini, kecambah dari lagu itu. Empat tahun lalu: sebuah video workshop.