Mengotentikkan Yang Jadi

Terlibat sedikit percakapan soal orisinal dengan @duniamanji di twitter. Ada yang menimpali. Jadi lumayan menarik. Buat gue, selama hampir satu dekade ada di wilayah dunia kreatif, secara realistis gue menempatkan diri untuk selalu menjadi otentik ketimbang orisinal.

Orisinal memang menjadi kata yang kadang begitu menggoda. Kadang membuat orang berada dalam posisi yang utopis. Karena orisinal buat gue adalah menjadi pencetus awal tanpa ada pendahulu sama sekali. Mungkin ini yang salah.

Tapi sepanjang gue mencoba mencari arti kata itu, posisinya memang arahnya  begitu. Sebuah posisi yang begitu luhung buat gue. Diperlukan bakat tinggi dan juga kejenialan yang tak terkira serta anugerah untuk yang terpilih.

Sementara otentik adalah lebih dekat dengan khas, unik dan akhirnya jujur. Gue melihat ini sangat lebih terbayang jelas. Gue tidak pernah merasa jenius. Atau terpilih. Gue dianugerahi cinta keras kepala yang gue jaga dengan kerja keras.

Otentik adalah arah yang pas. Mencari apa yang khas dari dalam diri sendiri. Apa yang jujur dalam setiap berkarya dan bekerja. Siapa tahu dengan berusaha otentik ternyata bisa jadi orisinal. Siapa tahu.

Dan, gue sangat gandrung dengan orang-orang yang membuat karya terdahulu. Menjadikan mereka inspirasi. Membuat gue merasa tidak boleh berhenti belajar. Karena masih belum apa-apa. Agar selalu punya gairah terus menerus untuk tumbuh, Jadi lebih baik.

Mengambil apa kata Johan Cruyff bahwa sepakbola adalah game of mistakes, tim yang paling sedikit bikin salah yang menang, saya memahami berkarya seperti itu juga.

Sedikit bergeser dari masalah orisinal tapi dekat dengan otentik, waktu tahun 2010, gue amat beruntung bisa menjadi anggota juri dari Asian Pacific Screen Award yang diketuai oleh Lord David Puttnam. Produser brilian yang amat gue hormati. Salah filmnya The Killing FieldDia memberikan pidato pembukaan yang menancap sampai sekarang. Dia bercerita soal dua hal.

Pertama seorang pembuat film muda yang punya pendapat ingin mencari uang lewat karya yang dirancang komersil lalu nanti punya karya yang idealis sendiri. David secara bercanda berkata, “Young man, It’s not going to happen.” Karena, kenapa membelah karya jadi begitu?

Jujur saja. Bikin saja apa yang kita mau. Komersil itu hasil bukan. Bukan jenis, genre atau bahkan bentuk sebuah karya. Jadilah unik, khas. Otentikkan semua yang akan kita jadikan.

Lalu yang kedua, bekerjalah dengan gairah seperti Francois Truffaut, kata David. Dulu waktu muda, dan Truffaut sudah tidak terlalu muda, David pernah bertemu Truffaut di sebuah restoran.

Tiba-tiba di tengah suasana makan, Truffaut meminta pulpen pada pelayan dan menulis dengan gugup di tisu. Lalu tersenyum lebar pada David sambil melipat tisu itu seperti anak kecil menemukan mainan baru. “I think I got an idea that will change the world.” Gue terdiam mendengarnya.

Mengutip sedikit salah satu kompas kreatif gue, Michael Stipe yang dengan rendah hati bilang: I am not complete/I have never been the gifted type, gue berjanji, karya berikut gue, akan selalu khas, jujur dan unik. Dan, lebih baik dari sebelumnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s