Tikungan Yang Satu Lagi

Gue sampai di tikungan yang lain. Tahun ini, gue 39 tahun. Sepertinya hal tikungan, dia bakal memberikan opsi-opsi. Belokan dan arah baru, putaran balik ke tempat lama atau bisa bikin kita tertabrak kalau bingung tak bergerak. Lantas apa yang sudah terkumpul dari ruas-ruas jalan yang sudah gue tapaki?

Tanpa terasa, anak sudah dua. Biru sudah SD kelas 2. Sudah bisa bikin gambar hati disandingkan nama seorang anak cowok di kelasnya [hm, gue harus mulai lacak, siapa anak itu, sebelum tanpa sadar udah ganti lagi sama yang lain dan Biru sudah minta ijin ke bioskop]. ‘Bung’ Akar Randu sedang masuk fase merespon semua usulan gue dengan satu kata favoritnya: ‘tidak’. Buat anak umur 4 tahun, bocah cukup cerdik. Karena dari ‘tidak’ itu dia sebenarnya menyudutkan gue dengan jawaban ‘ya’.

Ada satu-dua duka dan kehilangan yang masih terasa kelu sampai sekarang. Membuat gue terus-menerus mencari dan mempertanyakan makna hari setiap angin sepi itu datang mengiris waktu.

Ada banyak pencapaian yang optimal dan juga gagal. Pahitnya jadi seperti kopi tanpa gula yang belakangan jadi pilihan gue. Harus bisa dinikmati dan diresapi.

Nikah juga sudah masuk tahun ke 9. Tikungan lainnya. Sudah tak pernah lagi sempat menghitung-hitung apa yang lewat. Terlalu sibuk merancang masa depan: untuk selalu siap jatuh, bangkit dan tumbuh. Mungkin, gue bisa hidup tanpa Umma. Tapi gue butuh dia. Karena kami adalah semesta, saat bersama.

Kerja juga makin menuntut. Menarik-narik kejujuran gue untuk bisa menjawab pertanyaan kenapa gue membuat itu semua. Dan yang makin tidak bisa gue hindari adalah, sekeras apa pun gue coba untuk tak acuh ala seniman, pertanyaan: apa gunanya buat orang lain? Beradu keras dengan gedoran apakah gue masih harus terus berkompromi dengan realitas yang kadang berseberangan terus dengan hasrat karya? Sementara tikungan sudah mulai tajam belokannya. Seorang kawan, salah satu editor film terbaik Indonesia saat ini, berbagi kegelisahan yang sama [baca: sama mulai tuanya].

Itu memang dinamika dunia kerja yang secara organik bersentuhan dengan orang banyak. Dunia seni kolaborasi. Tarik napas. Awas terus buat memilah dan menelaah. Dan tentu menambah keterampilan dan kedalaman lagi. Dengan kata lain, belajar. Ini kurva, yang haram untuk mengecil lengkungannya. Harus selalu jauh dan jembar.

Langkah kerja juga maunya kian lebar. Seperti tahun ini, punya drama radio bareng Umma dan kebun cerita kami Wahana Penulis. Ke depannya, mau menggali ekosistem lebih subur buat menumbuhkan cerita dan pencerita yang berguna. Gue lebih senang berguna daripada jadi baik. Baik itu, kadang ‘politis’. Kalau berguna, kadang lawan pun bisa mengakuinya.

Masih bandel pingin punya ruang samping buat bermain-main. Musik masih jadi senthong. Jadi kamar buat mengumpulkan tenaga. Karena gue percaya, jeda adalah energi. Banyak maunya ya. Tapi gue memang berdenyut dengan cara begitu. Dibentuk tanpa privilase yang bisa membuat gue berleha-leha. Kalau gue tidak bergerak, daya gue berhenti.

Dan satu lagi, gue memang besar dari kesalahan. Bukan keberhasilan. Jadi, kalau begitu, mari berbelok ke arah jalan baru. Merambah lagi kemungkinan-kemungkinan anyar yang bisa membawa luka, duka dan suka. Tapi, gue melangkah dengan satu modal iman: kerja/cinta adalah cinta/kerja yang paling berdaya.

nb: kita adalah adalah alam raya selama butuh bersama/kita adalah semesta selama tumbuh bersama, sayang.

Iklan

3 pemikiran pada “Tikungan Yang Satu Lagi

    • Yang keduax dong ya… Like it very much dek… Btw angin sepi yg mengiris waktu itu juga masih berhembus kapan saja dia mau ditiap denyut kehidupan kami… Semoga kita semua semakin kuat menahan perihnya dan terus maju untuk mensyukuri kehidupan yang Allah berikan untuk kita… Aamiin #selalu ada rahasia dibalik rahasia…. 😃

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s