Menggeliatkan Yang Diam

IMG_20150726_165418

Kami adalah SiLENTiUM sejak 1999. Memilih nama ini karena kami percaya, jeda adalah energi. Band ini pun menjadi semacam ‘oasis’ kami di tengah lebamnya dunia kerja. Tempat bernada, membuat nota-nota.

Berusaha protes dan gelisah dengan sedikit gagah dalam balutan musik minor-folk kalau kata JPram, mikrofonis kami. Bisa dilongok di @state_silentium, SiLENTiUM, atau reverbnation dan soundcloud ini. Ada berbagai hal yang bisa disimak dan didengar di sana.

Nota pertama adalah sebuah album mini Post Scriptum [salah satu ulasannya]. Pernah masuk dalam jajaran OST Sang Pemimpi, lewat lagu ‘Para Pemimpi‘. Nota kedua kami kasih label Bedeng [salah satu kupasan dari sample khusus terbatas kami]. Sudah dua tahun terakhir kami kerjakan. Digodok dan difinalkan dengan brilian oleh Aghi Narottama di Rooftopsound Studio-nya.

Awal tahun ini salah satu lagu kami ‘Di Atas Cahaya‘ menjadi OST film Ayat-Ayat Adinda. Lagu lain, ‘Lagu Pemberani’, bisa diunduh dari aplikasi peacesong. Bagian dari gerakan peace generation yang memimpikan kebersamaan nan damai di tlatah plural ini.

Dua hari lalu dapat kabar, ‘Di Atas Cahaya’ bertengger di nomer 17 tangga lagu Ganas milik 98.7 Gen FM. Bikin kaget. Sebab nyaris tanpa promosi. Maklum. Band gerilya dengan napas yang terbatas. Modal cinta keras kepala pada daya cipta dan karsa.

Semua itu kian membuat kami menggeliat merancang strategi eksistensi yang baru, setelah agak vakum setahun terakhir. Kami sedang berusaha menyiapkan keasyikan merekam live EP Bedeng secara audio visual dan membagikannya nanti lewat media sosial. Ini lagu ‘Siklus‘ versi latihan kami. Masih dalam progres.

Rencana yang sudah digoretkan, sekitar tengah Agustus ini, rekaman itu digelar. Silakan cek laman-laman tadi, terutama facebook, bila terpikat ingin tahu. Siapa tahu nanti bisa ikut hadir dan merayakan gembira yang ada.

Ada kerinduan mengundang idola kami, Cholil dari Efek Rumah Kaca buat bernyanyi bersama. Tapi, itu kalau sang ‘melankolia’ bersedia. Sedang digarap. Doakan saja jadi.

Mari, geliatkan jeda kita, bersama!

Iklan

Menumbuhkan Yang Hilang

sumber msm.runhello.com

sumber msm.runhello.com

Baru saja mengalami kiamat digital. Data-data kerja dengan amat ceroboh musnah. Ada yang sudah berumur lebih tua dari lima tahun. Bentuknya bukan cuma tulisan, tapi komposisi musik. Mimpi kawan-kawan yang lain juga. Back up ada. Tapi tidak lengkap. Sedang berusaha ditarik kembali dengan berbagai kecakapan teknologi.

Tapi sepertinya sulit sudah. Banyak yang harus diulang. Bermodal insting yang sedang diterkam panik tiada tara. Apa bisa sebagus yang sebelumnya? Bagaimana kalau itu sudah yang paling maksimal?

Mungkin mesti melihat pada daun yang gugur. Kerjanya sudah tamat. Ada yang baru yang akan mengganti. Lebih baik atau lebih buruk, tidak pernah menjadi titik awal penciptaan.

Sepertinya memang harus kembali merangkak bangkit. Macam tanah yang dibajak. Harus dibalik total sebelum ditanami bibit-bibit baru.

Mengotentikkan Yang Jadi

Terlibat sedikit percakapan soal orisinal dengan @duniamanji di twitter. Ada yang menimpali. Jadi lumayan menarik. Buat gue, selama hampir satu dekade ada di wilayah dunia kreatif, secara realistis gue menempatkan diri untuk selalu menjadi otentik ketimbang orisinal.

Orisinal memang menjadi kata yang kadang begitu menggoda. Kadang membuat orang berada dalam posisi yang utopis. Karena orisinal buat gue adalah menjadi pencetus awal tanpa ada pendahulu sama sekali. Mungkin ini yang salah.

Tapi sepanjang gue mencoba mencari arti kata itu, posisinya memang arahnya  begitu. Sebuah posisi yang begitu luhung buat gue. Diperlukan bakat tinggi dan juga kejenialan yang tak terkira serta anugerah untuk yang terpilih.

Sementara otentik adalah lebih dekat dengan khas, unik dan akhirnya jujur. Gue melihat ini sangat lebih terbayang jelas. Gue tidak pernah merasa jenius. Atau terpilih. Gue dianugerahi cinta keras kepala yang gue jaga dengan kerja keras.

Otentik adalah arah yang pas. Mencari apa yang khas dari dalam diri sendiri. Apa yang jujur dalam setiap berkarya dan bekerja. Siapa tahu dengan berusaha otentik ternyata bisa jadi orisinal. Siapa tahu.

Dan, gue sangat gandrung dengan orang-orang yang membuat karya terdahulu. Menjadikan mereka inspirasi. Membuat gue merasa tidak boleh berhenti belajar. Karena masih belum apa-apa. Agar selalu punya gairah terus menerus untuk tumbuh, Jadi lebih baik.

Mengambil apa kata Johan Cruyff bahwa sepakbola adalah game of mistakes, tim yang paling sedikit bikin salah yang menang, saya memahami berkarya seperti itu juga.

Sedikit bergeser dari masalah orisinal tapi dekat dengan otentik, waktu tahun 2010, gue amat beruntung bisa menjadi anggota juri dari Asian Pacific Screen Award yang diketuai oleh Lord David Puttnam. Produser brilian yang amat gue hormati. Salah filmnya The Killing FieldDia memberikan pidato pembukaan yang menancap sampai sekarang. Dia bercerita soal dua hal.

Pertama seorang pembuat film muda yang punya pendapat ingin mencari uang lewat karya yang dirancang komersil lalu nanti punya karya yang idealis sendiri. David secara bercanda berkata, “Young man, It’s not going to happen.” Karena, kenapa membelah karya jadi begitu?

Jujur saja. Bikin saja apa yang kita mau. Komersil itu hasil bukan. Bukan jenis, genre atau bahkan bentuk sebuah karya. Jadilah unik, khas. Otentikkan semua yang akan kita jadikan.

Lalu yang kedua, bekerjalah dengan gairah seperti Francois Truffaut, kata David. Dulu waktu muda, dan Truffaut sudah tidak terlalu muda, David pernah bertemu Truffaut di sebuah restoran.

Tiba-tiba di tengah suasana makan, Truffaut meminta pulpen pada pelayan dan menulis dengan gugup di tisu. Lalu tersenyum lebar pada David sambil melipat tisu itu seperti anak kecil menemukan mainan baru. “I think I got an idea that will change the world.” Gue terdiam mendengarnya.

Mengutip sedikit salah satu kompas kreatif gue, Michael Stipe yang dengan rendah hati bilang: I am not complete/I have never been the gifted type, gue berjanji, karya berikut gue, akan selalu khas, jujur dan unik. Dan, lebih baik dari sebelumnya.

Bertambah Yang Kurang

Photo on 7-10-15 at 9.52 PM

Hampir seminggu lalu, ada yang bertambah dari gue. Minus di mata. Dan langsung lompat dua kali lipat. Padahal sudah hampir bertahun-tahun rasanya nyaman-nyaman saja.

Ini namanya bertambah yang kurang. Mungkin ada hal lain yang juga begitu. Mesti harus rajin-rajin mengecek diri. Tidak lucu rasanya, kalau umur bertambah tapi kegunaan malah minus.

Kerja tambah ramai, tapi kedalamannya berkurang. Rejeki tambah mengalir, tapi sensitifitas menipis. Ilmu tambah banyak, tapi jadi dogmatik. Mayoritas tapi menindas.

Merugi seperti yang disebut Al Ashr. Surat Tuhan favorit gue.

Mari, longok lagi hari dan hati.

nb: iya, nanti dikurangi nonton sambil tiduran dan gelap.

Mengingat Yang Pernah Dicatat

sumber: borda.devianart.com

sumber: borda.devianart.com

Dua tulisan ini, awalnya ada di sini.

Usaha gue buat mencoba jujur sendiri. Mengorek-ngorek makna jodoh dan turunannya Tapi belakangan, dia ternyata bisa jadi diorama buat bijaknya almarhum Papa. Sebab ini adalah hasil ngobrol dengan Papa. Ini juga buat beberapa orang yang sepertinya dulu pernah suka dengan tulisan ini.

Jadi, atas nama memori dan romantisme, ini lagi dua tulisan itu. Apa adanya. Dengan segala salah ketik dan mungkin berkahnya.

sumber: borda.devianart.com

TUESDAY, JUNE 14, 2005

Jodoh, Nikah and Faith

Gue akhirnya mutusin nikah.

For those who unfortunatelly know me, dont laugh. Well, gue adalah orang yang dikenal dengan postulat kalo nikah itu masuk kotak. Nggak ada lagi ruang pribadi buat diri lo. Banyak hal yang harus dikompromiin sementara lo udah ada di kondisi yang sulit banget dikompromikan. Sebuah kondisi nyaman dimana lo benar-benar ‘hidup’. Dimana lo jadi diri lo sendiri. Jadi, gue sempat berpikir, ada orang-orang yang terlalu ‘terlambat’ buat menikah dan memang lebih baik hidup sendiri. And I’m pretty sure, I’m one of those.

Di samping itu, ada hal lain yang jadi pondasi berpikir gue, kenapa kompromi dengan pasangan adalah hal yang ‘ajaib’. Konsep jodoh. Dari sebelum 17 tahun gue udah mikirin ini. Karena tiga konsep rejeki, maut dan jodoh bisa gue terima dengan tanpa pertanyaan kecuali yang terakhir.

Kenapa tukang becak yang jujur nyari 25 ribu aja setengah mati lalu ada anak kemaren sore udah jadi brand manager bergaji 25 juta sebulan, bisa gue terima. Rejekinya udah diatur. Tiap kerja keras beda nilainya. Kenapa ada bayi polos baru tiga bulan bisa meninggal sementara junkies umur 60 tahun belum mati-mati, itu karena maut urusan Allah.

Sementara jodoh? Siapa jodoh kita? Dimana batasannya? Kalo nikah aja bisa cerai, yang mana yang namanya jodoh? Agak sulit gue terjemahkan dan gue jawab. Sampe akhirnya, gue ketemu sama ‘anak kecil’ yang menyentak gue dengan kesadaran, kalo jodoh sama nikah nggak ada hubungannya.

Ya, jodoh sama nikah nggak ada korelasinya. Kenapa? Sebab jodoh di tangan Allah. Sama kelasnya dengan misteri rejeki dan maut. Kita nggak akan tahu apakah pasangan yang sekarang ada di sisi kita itu jodoh kita sampe kita bener-bener tutup usia. Jadi nikah bukanlah bukti kalo orang itu jodoh kita apa bukan.

Yang bisa kita lakuin adalah mempertanyakan kenapa nikah? Kenapa lo mau nikah, boy? Gue mau nikah karena nikah menyempurnakan setengah agama gue. Karena nikah sumber berkah. Bukan pacaran [or whatsoever] tapi nikah. Dan gue iman sama kalimat-kalimat itu. Kalo situ nggak iman, ya no problem. Pembuktiannya nanti kok, nggak sekarang. Sekarang sih, free will.

Lalu gue memutuskan untuk mengetahui apakah ‘anak kecil’ ini jodoh gue apa bukan sambil menyempurnakan agama gue dan dapet berkah dengan nikah. Bukan dengan pacaran lama-lama [fyi waktu pacaran emang tidak menentukan apa-apa. Udah banyak contoh. Gue pernah pacaran tiga tahun dulu. Dan sama ‘anak kecil’ ini empat bulan ‘udah’ cukup buat gue] Kalo ternyata kita nggak jodoh, at least we doing something that we believe is very beautiful. Gimana nggak indah? Agama lo jadi lebih lengkap dan lo dapet berkah dari Tuhan lo. Kuncinya sekali lagi ada di iman.

Tapi satu hal, pada saat lo nggak percaya nikah, bukan berarti nikah itu lantas nggak ada. Lantas nikah jadi sesuatu yang ‘salah’. Persis ketika lo ngebelakangin bulan, bukan berarti bulannya hilang. Lo milih untuk nggak liat bulan. Atau ketika lo milih nggak lewat Sudirman tapi menuju Kuningan. Sudirman tetep ada. Believe it or not, nikah its there. Lying right in front of your journey.

Banyak orang pusing mikirin pacarnya jodoh atau bukan. Atau segepok barrier lainnya. Mulai dari takut cerai, punya anak, mertua, kesiapan ekonomi, belum siap mental, dsb. Gue juga begitu, sampe akhirnya, gue ketawa sendiri. “Sok ribet lo! Mau nikah apa nggak? Toh semua ada konsekuensinya. Your time is ticking away.” Sementara anak orang masih dideketin juga. Malu juga jadi ‘banci’ begitu. Mau lo apa sebenernya? Nikah atau nggak?

Dan akhirnya gue memutuskan untuk nikah. Bukan karena yakin dia jodoh gue, tapi justru pingin ngebuktiin dia jodoh gue apa bukan. With my faith.

nb: jangan jadiin gedung penuh menghalangi kita Ed… 😀

FRIDAY, JUNE 17, 2005

The Story Behind

Gue baru keinget omongan seorang kawan tentang keputusan nikah.

Katanya ketika ditanya wahyu apa yang dia dapet saat mutusin nikah: “Kadang lo cuma butuh sepersekian detik saat bangun tidur dan lo mendadak pingin nikah sama seseorang”. Gue sih ketawa aja denger jawaban sok cool begitu.

Tapi ternyata gue mengalami itu. Jadi di balik tulisan ‘serius’ gue sebelum ini, sebenarnya kronologisnya sangat tidak heroik dan mmm, romantis. Ceritanya begini.

Di suatu pagi, gue sama bokap sedang di depan TV. Kita emang punya rencana buat pergi ke rumah tante gue yang lagi mau nikahin anaknya. Nyokap udah nginep di sana duluan. Di tengah kunyahan opak bersaput tipis cabe, tiba-tiba aja gue nanya tentang konsep jodoh.

“Dimana sih batasan jodoh seseorang? Kalo kawin aja bisa cerai? Apa berarti jodoh manusia itu nggak cuma satu? Bisa ganti-ganti?” Satu opak tamat riwayatnya. Gue agak kepedesan.

Bokap gue berpikir dengan tongkrongan meyakinkan. Seperti hendak mengeluarkan sebentuk suara bijak penuh reverb. Macam scene dimana seorang Ayah memberi wejangan penerang hidup pada anak laki-lakinya. Dan jawaban yang keluar…. “Hm, iya juga. Nggak tau juga ya…” Dengan dramatis dia mengambil sebuah opak dan mengunyah. Gue masih nunggu wejangan. Dia mengambil remote dan memindahkan acara berita menjadi sebuah acara dangdut. Wejangan tidak ada dalam menu ternyata pagi ini.

Wah, bapak macam apa ini 🙂 Pertanyaan belasan tahun gue dijawab dengan tidak kompeten oleh orang yang sudah menikah lebih dari 20 tahun. Masa dia nggak tau sih? Gue akhirnya memutuskan mandi setelah menyikat tiga opak lagi.

Di kamar mandi gue masih rada gemes sama jawaban bokap. Tapi tiba-tiba something struck me. Gila, kalo yang udah nikah puluhan tahun aja nggak bisa jawab soal jodoh, berarti ini memang misteri besar yang nggak usah dicari jawabannya. Lantas seperti efek domino kesadaran gue muncul dan jadilah tulisan Jodoh, Nikah and Faith.

Nah, coba perhatikan, diawali dengan obrolan opak dan lantas gue memutuskan buat nikah sama anak orang di kamar mandi. Tadinya gue berpikir momen ini bakal indah, bla-bla-bla. Dan rasanya opak plus kamar mandi nggak masuk dalam kategori indah ya…

Tapi, gue jadi ngerti yang temen gue bilang. Pengambilan keputusan itu memang tidak perlu sakral atau bagaimana. Justru pada saat dia terjadi di tengah your ordinary time, your ordinary life, menelusup dalam situasi yang biasa-biasa saja, bangung tidur, mandi atau sekedar menghabiskan rokok di balkon kantor, itu yang menjadikannya indah.

Ya indah. Karena berarti kesadaran itu sudah menelusup masuk dalam alam pikir lo. Menjadi bagian keseharian lo. Seperti udara yang dihisap. Seperti darah yang mengalir. Seperti kuku yang tumbuh. Menjadi bagian dari diri lo. Bukan sesuatu yang di set up atau direncanakan hingga terasa artificial.

nb: ini cuma pembenaran aja kok Ed atas pengambilan keputusan di kamar mandi… 😀

Tikungan Yang Satu Lagi

Gue sampai di tikungan yang lain. Tahun ini, gue 39 tahun. Sepertinya hal tikungan, dia bakal memberikan opsi-opsi. Belokan dan arah baru, putaran balik ke tempat lama atau bisa bikin kita tertabrak kalau bingung tak bergerak. Lantas apa yang sudah terkumpul dari ruas-ruas jalan yang sudah gue tapaki?

Tanpa terasa, anak sudah dua. Biru sudah SD kelas 2. Sudah bisa bikin gambar hati disandingkan nama seorang anak cowok di kelasnya [hm, gue harus mulai lacak, siapa anak itu, sebelum tanpa sadar udah ganti lagi sama yang lain dan Biru sudah minta ijin ke bioskop]. ‘Bung’ Akar Randu sedang masuk fase merespon semua usulan gue dengan satu kata favoritnya: ‘tidak’. Buat anak umur 4 tahun, bocah cukup cerdik. Karena dari ‘tidak’ itu dia sebenarnya menyudutkan gue dengan jawaban ‘ya’.

Ada satu-dua duka dan kehilangan yang masih terasa kelu sampai sekarang. Membuat gue terus-menerus mencari dan mempertanyakan makna hari setiap angin sepi itu datang mengiris waktu.

Ada banyak pencapaian yang optimal dan juga gagal. Pahitnya jadi seperti kopi tanpa gula yang belakangan jadi pilihan gue. Harus bisa dinikmati dan diresapi.

Nikah juga sudah masuk tahun ke 9. Tikungan lainnya. Sudah tak pernah lagi sempat menghitung-hitung apa yang lewat. Terlalu sibuk merancang masa depan: untuk selalu siap jatuh, bangkit dan tumbuh. Mungkin, gue bisa hidup tanpa Umma. Tapi gue butuh dia. Karena kami adalah semesta, saat bersama.

Kerja juga makin menuntut. Menarik-narik kejujuran gue untuk bisa menjawab pertanyaan kenapa gue membuat itu semua. Dan yang makin tidak bisa gue hindari adalah, sekeras apa pun gue coba untuk tak acuh ala seniman, pertanyaan: apa gunanya buat orang lain? Beradu keras dengan gedoran apakah gue masih harus terus berkompromi dengan realitas yang kadang berseberangan terus dengan hasrat karya? Sementara tikungan sudah mulai tajam belokannya. Seorang kawan, salah satu editor film terbaik Indonesia saat ini, berbagi kegelisahan yang sama [baca: sama mulai tuanya].

Itu memang dinamika dunia kerja yang secara organik bersentuhan dengan orang banyak. Dunia seni kolaborasi. Tarik napas. Awas terus buat memilah dan menelaah. Dan tentu menambah keterampilan dan kedalaman lagi. Dengan kata lain, belajar. Ini kurva, yang haram untuk mengecil lengkungannya. Harus selalu jauh dan jembar.

Langkah kerja juga maunya kian lebar. Seperti tahun ini, punya drama radio bareng Umma dan kebun cerita kami Wahana Penulis. Ke depannya, mau menggali ekosistem lebih subur buat menumbuhkan cerita dan pencerita yang berguna. Gue lebih senang berguna daripada jadi baik. Baik itu, kadang ‘politis’. Kalau berguna, kadang lawan pun bisa mengakuinya.

Masih bandel pingin punya ruang samping buat bermain-main. Musik masih jadi senthong. Jadi kamar buat mengumpulkan tenaga. Karena gue percaya, jeda adalah energi. Banyak maunya ya. Tapi gue memang berdenyut dengan cara begitu. Dibentuk tanpa privilase yang bisa membuat gue berleha-leha. Kalau gue tidak bergerak, daya gue berhenti.

Dan satu lagi, gue memang besar dari kesalahan. Bukan keberhasilan. Jadi, kalau begitu, mari berbelok ke arah jalan baru. Merambah lagi kemungkinan-kemungkinan anyar yang bisa membawa luka, duka dan suka. Tapi, gue melangkah dengan satu modal iman: kerja/cinta adalah cinta/kerja yang paling berdaya.

nb: kita adalah adalah alam raya selama butuh bersama/kita adalah semesta selama tumbuh bersama, sayang.